Senin, 6 September 2010
Home | Agenda | Buku Tamu | Galeri Foto | Kontak           
 
MENU
Profil Kami
Piagam Deklarasi
Visi dan Misi
Sejarah PK Sejahtera
Susunan Pengurus
Anggota Legislatif
Liputan Media
Refleksi
Kontak


(13/06) Kajian Fiqh Sunnah digelar oleh DPD PKS Kota Ambon di Masjid Al Ikhwan BTN Manusela

GEDUNG DAKWAH
DPW PKS MALUKU

Jalan Raya Tanah Rata
Batu Merah Ambon
Telp/Fax (0911) 355834

LINK
DPP PK-Sejahtera
Fraksi PKS DPR RI

Anda pengunjung ke-


Jumlah Pengunjung
yang Online : 5

 

Powered by:

REFLEKSI

Selamat Datang Negeri Panda
Dikirim pada hari Rabu, 26 Mei 2010 13:00 WIB

Kedatangan pengusaha dari Propinsi Henan merupakan balasan dari kunjungan Gubernur Maluku ke propinsi tersebut, pada Januari 2010, selain Gubernur, ikut dalam rombongan Kepala BKPM Maluku. Sejumlah kepala dinas termasuk Bupati Seram Bagian Timur juga terlibat dalam lawatan.

Beberapa langkah kerjasama dengan sejumlah pengusaha asal Cina ini menjadi agenda prioritas. Saat lawatan Januari 2010 lalu, selain bertemu dengan petinggi Provinsi Henan, Gubernur mengadakan sejumlah agenda penandatanganan kerjasama dengan pengusaha perikanan dan kelautan, serta pertanian dan kehutanan. Membahas sejumlah peluang kerjasama menyangkut air bersih, proyek pengembangan wisata, dan migas.

Kunjungan ke negeri Panda, sebuah langkah yang kita apresiasi secara positif. Balasan yang dilakukan oleh pengusaha Henan menjadi episode baru. Para pemilik modal, pemangku resource melirik daerah ini. Investasi dibutuhkan untuk menjalankan roda ekonomi kita yang jalannya agak tertatih-tatih.

Perjalanan yang telah dilakukan oleh Gubernur dan balasan kunjungan tersebut menjadi pertanda baik. Keinginan untuk bertahap mewujudkan visi besar. Visi yang telah ditetapkan Gubernur. Menurunkan angka kemiskinan, menekan angka pengangguran. Visi ini menjadi bagian lain dari agenda pembangunan tahunan. Data BPS Maluku, angka kemiskinan di Maluku tahun 2009 - 28,23 %, 2008 - 29,66 %. Tahun 2010, pemerintah telah bertekad kemiskinan tinggal 21,20 %.

Data-data yang disampaikan oleh BPS bisa saja kita perdebatkan kebenarannya. Soal metodologi survey, pendekatan pengambilan sampel, dan sejumlah indikator-indikator statistik yang digunakan untuk mengukur laju penurunan kemiskinan ini. Apalagi ketika secara kasat mata, dengan melihat fakta-fakta di daerah kabupaten/kota. Menyusuri desa dan dusun. Kepahitan hidup, kesulitan memenuhi standar ekonomi keluarga menjadi cerita sedih yang memilukan. Apakah memang kemiskinan kita hanya sebegitu jumlahnya?
Lembaga internasional semacam PBB lebih rumit dalam memberi standar soal kemiskinan.

Capaian MDGS salah satunya. Jika kita menggunakan pendekatan MDGs dalam mengukur nilai hidup masyarakat kita, maka pertanyaan soal angka statistika kemiskinan dari BPS ini menjadi panjang.

Namun demikian, data BPS soal angka kemiskinan menjadi starting point, bahwa daerah ini harus bergerak. Melaju secara bertahap. Merangkai sebuah cita-cita bersama. Menciptakan ruang nafas yang cukup bagi rakyat bahwa pemerintah ada bersama mereka. Ada di dekat mereka. Detak jantung kehidupan mereka di dengar. Menciptakan lahan-lahan kehidupan baru, agar rakyat dapat terus menyambung hidup.

Hal yang sama juga pada soal pengangguran. BPS memaparkan data, angka pengangguran di Maluku tahun 2008 menyentuh 10,67 %. Angka di tahun 2009 sebesar 10,57 %. Setiap tahun, daerah ini memproduksi angkatan kerja. Tingkat pendidikannya pun beragam. Sekolah menengah, hingga sarjana. Perguruan Tinggi cukup subur memproduksi angkatan kerja intelektual. Semuanya antri mencari pekerjaan. Menjejal lahan pekerjaan yang sempit atau kadang bahkan tidak ada. Jumlah lahan sangat tidak sebanding dengan angkatan kerja yang ada. Ibarat petani, sangat sempit lahan untuk menanam padi.

Oleh karenanya, perjalanan ke negeri Panda dan balasan kunjungan investor ini, kita apresiasi. Sebuah kesungguhan kerja pemerintah daerah untuk menarik pemilik modal datang berinvetasi di sini. Menanam uangnya. Menciptakan ruang akses ekonomi.

China, termasuk negara yang pengusahanya paling rajin berinvestasi. Direktur Investasi dan Promosi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Erwin P Siregar menyatakan, investasi China di Indonesia memiliki nilai yang cukup besar dengan menduduki peringkat ke-12. “Selama 1967-2007, China berkontribusi dalam 574 proyek investasi di Indonesia yang mencapai nilai US$ 8,060 miliar,” urai Erwin sebagaimana dimuat di koran Sinar Harapan.

Provinsi Henan, tempat muasal para calon investor, pengusahanya telah menjalin kerjasama dengan Indonesia sejak 2005. Bahkan pemerintah Indonesia dan Henan juga telah membentuk Forum Kerjasama Ekonomi Henan dan Indonesia. Para pengusaha asal Henan ini rata-rata meminati sektor pertanian, makanan dan minuman, semen, perikanan dan kelautan, pariwisata, aluminium serta baja.

Kunjungan pengusaha Henan merupakan buah dari lawatan ke luar negeri yang dilakukan oleh Gubernur. China bukan negeri yang pertama disentuh oleh pemerintah daerah dalam membuka jejaring investasi. Tercatat sebelumnya, beberapa negara, jejak kaki Gubernur telah terpahat. Belanda, Timur Tengah, Rusia Denmark bahkan Yunani.

Mencermati buah lawatan di beberapa negara sebelumnya, ternyata belum sepenuhnya memberi manfaat signifikan untuk meyakinkan investor. Belanda dan Rusia, adalah contoh sekaligus isyarat ternyata tak sepenuhnya lawatan ini membuahkan hasil. Butuh pembenahan yang serius.

Banyak parameter yang harus dipenuhi untuk memastikan bahwa investor melirik daerah ini. Infrastruktur, sarana transportasi, pasokan listrik, kondisi sosial keamanan, kemudahan perijinan, adalah contoh yang dapat disebut untuk dibenahi. Tidak selesai disitu, masih ada puluhan daftar lain yang harus dipenuhi. Soal ketersediaan SDM, layanan perbankan dan kepastian hukum. Rasanya investor akan mengernyitkan dahinya jika system layanan listrik di daerah ini yang memprihatinkan. “Mereka akan minggat sebelum berkeliling”, komentar seorang kolega ketika kami berdiskusi soal ini.

Hari ini kita ingin berucap : “Selamat Datang Negeri Panda”. Biarlah waktu yang akan membuktikan, perjalanan ke negeri Panda dengan balasan kunjungan pengusaha Henan, apakah memberi senyum bagi anak negeri. Menggelar karpet merah untuk para penanam modal. Ataukah wajah sayu tanpa makna, lagi-lagi daerah ini tak menarik untuk investor, yang berujung seperti episode-episode sebelumnya. (**)

Dimuat Di Harian Ambon Ekspres, 23/04/2010